Pages

Tuesday, February 12, 2013

Education for All


Hakekat Education for All
Hakekat dari “Education for Allpada intinya adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu layanan pendidikan. Pembelajaran  untuk semua merupakan wujud pembelajaran yang menyangkut semua usia entah itu dewasa, orang tua maupun anak-anak yang bertujuan agar lebih mengerti tentang sesuatu. Seperti yang dikemukakan Paulo Freire bahwa pendidikan tidak boleh dibatasi hanya untuk golongan elite dengan mengesampingkan golongan menengah ke bawah sebagai kaum tertindas. Usaha pendidikan menurut Freire, harus melepaskan diri dari kecenderungan hegemoni dan dominasi. Karena pendidikan yang memiliki karakteristik hegemonik dan dominatif tidak akan pernah mampu membawa rakyat pada pemahaman diri dan realitasnya secara utuh. Semua orang yang hidup berhak memperoleh pendidikan, inilah yang disebut konsep pendidikan “education for all”.
Pendidikan untuk semua telah menjadi komitmen global untuk menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi semua anak muda, anak-anak, maupun orang dewasa. Pendidikan untuk Semua atau Education for All (EFA) adalah gerakan global yang dipimpin oleh UNESCO, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua anak, remaja dan orang dewasa pada tahun 2015.  UNESCO telah diamanatkan untuk memimpin gerakan dan mengkoordinasikan upaya-upaya internasional untuk mencapai tujuan EFA. Untuk dapat mewujudkan EFA, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warga negara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskannya sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing.
Sejarah Terbentuknya Education for All (EFA)
Semua negara di dunia merasa perlu untuk menjamin terselenggaranya Education for All bagi setiap warga negaranya. Pendidikan merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Latar belakang sejarah terbentuknya EFA adalah :
a.       Sekitar 40 tahun yang lalu bangsa-bangsa di dunia membicarakan deklarasi universal Hak Asasi Manusia yang menegaskan “setiap orang memiliki hak untuk pendidikan”. Namun dalam menjamin hal tersebut masih banyak kendalanya.
b.      Pada 5-9 Maret 1990 di Jomtien, Thailand 115 negara dan 150 organisasi mengadakan konferensi dunia membahas Education for All (EFA).
c.       Masyarakat Internasional menegaskan kembali komitmennya terkait Education for All (EFA) di Dakar, Senegal pada 26-28 April 2000. Pada pertemuan terakhir 189 negara membicarakan tujuan pendidikan yang dikenal dengan Milenium Development Goals mengenai pendidikan dasar universal (MDG2) dan kesetaraan gender (MDG3) pada pendidikan 2015.
Kendala Penerapan Education for All (EFA)
Semua bangsa di dunia berupaya untuk menjamin pendidikan untuk semua bagi setiap warganya. Meskipun negara-negara tersebut terus mengupayakan untuk menjamin pendidikan untuk semua, tetapi masih saja ditemukan kendala. Beberapa kendala tersebut antara lain :
a.    Lebih dari 100 juta anak-anak, termasuk setidaknya 60 juta anak-anak, tidak memiliki akses terhadap pendidikan dasar.
b.    Lebih dari 960 juta orang dewasa, dua pertiga di antaranya adalah perempuan yang buta huruf, dan buta huruf adalah masalah yang signifikan di semua negara, termasuk di negara industri dan berkembang.
c.    Lebih dari sepertiga orang dewasa di dunia tidak mendapatkan pengetahuan tertulis, keterampilan, dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan membantu mereka dalam beradaptasi menghadapi perubahan sosial dan budaya.
d.   Lebih dari 100 juta anak-anak dan orang dewasa yang tak terhitung, gagal untuk menyelesaikan program pendidikan dasar.
e.    Jutaan orang telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh pendidikan, namun mereka tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan esensial.
Selain permasalahan di atas, masih banyak masalah-masalah lain yang menghambat upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar dasar. Masalah terkait kemunduran ekonomi, pertumbuhan penduduk yang cepat, kesenjangan ekonomi antar bangsa, adanya konflik dan perang saudara serta berbagai bentuk tindakan kejahatan dan kekerasan (kriminal) telah menyebabkan kemunduran besar dalam pendidikan dasar pada 1980-an di banyak negara sedang berkembang. Di beberapa negara lain, pertumbuhan ekonomi telah tersedia untuk membiayai perluasan pendidikan, namun meskipun demikian, banyak jutaan tetap dalam kemiskinan, tidak mampu bersekolah atau buta huruf. Di negara-negara industri tertentu juga, penghematan dalam pengeluaran pemerintah selama tahun 1980-an telah menyebabkan kemerosotan pendidikan.
Komitmen Education for All (EFA)
Dalam rangka memenuhi education for all, EFA memiliki beberapa komitmen yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertendtu, diantaranya :
a.       Memperluas dan meningkatkan perawatan anak usia dini yang komprehensif dalam pendidikan.
b.      Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di dunia tanpa terkecuali memiliki akses lengkap dan bebas ke wajib pendidikan dasar yang berkualitas baik.
c.       Memastikan bahwa kebutuhan belajar semua pemuda dan dewasa dipenuhi melalui akses yang adil untuk pembelajaran yang tepat dan program ketrampilan hidup.
d.      Mencapai 50% peningkatan dalam keaksaraan orang dewasa pada tahun 2015, khususnya bagi perempuan, dan akses ke pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa secara adil.
e.       Menghilangkan perbedaan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan dengan tahun 2015, dengan fokus pada perempuan bahwa mereka dipastikan mendapat akses penuh dan sama ke dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik.
f.       Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulan semua sehingga diakui dan diukur hasil pembelajaran yang dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, berhitung dan kecakapan hidup yang esensial.
Upaya Mencapai Education for All (EFA)
Untuk mencapai komitmen Education for All (EFA) seperti yang diharapkan maka diperlukan upaya-upaya antara lain sebagai berikut :
a.       Menyediakan dan menambah dana pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyekolahkan anak-anak di dunia.
b.      Meningkatkan kualitas pendidikan dengan pelatihan dan perekrutan guru profesional antara sekarang dan 2015, sehingga semua anak memiliki kesempatan untuk belajar di kelas.
c.       Mendorong pemerintah untuk mendefinisikan dan mengukur standar minimal pembelajaran, sebagai tonggak utama terhadap peningkatan hasil pembelajaran dan strategi yang lebih luas untuk menjamin kualitas pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga peserta didik terus mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk pekerjaan dan kontribusi untuk ekonomi produktif.
d.      Menjangkau semua anak dengan mengembangkan strategi-strategi baru untuk mencapai sulit dijangkau anak-anak dalam konflik, di daerah terpencil, dan dari kelompok-kelompok didiskriminasi.
e.       Memperluas kesempatan pendidikan pada semua tingkatan, termasuk perawatan anak usia dini dan pengembangan, pendidikan menengah dan penyediaan kesempatan kedua belajar bagi mereka melalui pendidikan non-formal dan program keaksaraan orang dewasa
f.       Menjamin bahwa anak-anak memiliki cukup untuk makan dan untuk belajar mengembangkan kesehatan melalui penyediaan makanan sekolah.
g.      Mendorong pemerintah nasional untuk mempersembahkan paling sedikit 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan dan untuk menghapuskan biaya yang mencegah begitu banyak anak-anak dari pergi ke sekolah.
Education for All di Indonesia
Indonesia telah mengalami kemajuan di bidang pendidikan dasar dalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang bersekolah mencapai 94 persen. Tapi Indonesia tetap belum berhasil memberikan jaminan hak atas pendidikan bagi semua anak. Apalagi, masih banyak masalah yang harus dihadapi, masalah tersebut antara lain:
a.       Masih banyaknya anak putus sekolah.
b.      Kualifikasi dan kompetensi tenaga pengajar masih kurang.
c.       Metode pengajaran yang tidak efektif yang masih berorientasi kepada guru dan anak didik tidak diberi kesempatan memahami sendiri.
d.      Manajemen sekolah yang buruk dan minimnya keterlibatan masyarakat.
e.       Kurangnya akses pengembangan dan pembelajaran usia dini bagi sebagian anak-anak yang tinggal di pedalaman dan pedesaan.
f.       Biaya pendidikan yang tinggi disertai alokasi anggaran dari pemerintah daerah dan pusat yang tidak memadai.
Untuk mencapai tujuan Education for All, pemerintah Indonesia dibantu oleh UNICEF dan UNESCO melakukan kegiatan-kegiatan antara lain:
a.       Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat
UNICEF mendukung langkah-langkah pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pendidikan dasar melalui Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat. Sistem ini memungkinkan penelusuran semua anak usia di bawah 18 tahun yang tidak bersekolah.
b.      Program Wajib Belajar 9 tahun
Dalam upayanya mencapai tujuan “Pendidikan untuk Semua” pada 2015, pemerintah Indonesia saat ini menekankan pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh anak Indonesia usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan UNESCO memberi dukungan teknis dan dana.
c.       Program Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak (CLCC).
Bersama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan anak-anak di delapan propinsi di Indonesia, UNICEF mendukung program Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak (CLCC).
Sementara kondisi yang terjadi di lapangan tak sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan dimana masyarakat justru dirugikan dengan adanya Education for All (EFA). Beberapa kondisi yang terjadi antara lain :
v Menjelang tahun ajaran baru masyarakat golongan menengah ke bawah gelisah memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya mengingat biaya pendidikan yang semakin mahal dari tahun ke tahun. Anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ini kemungkinan besar akan menjadi buruh, atau hanya menambah jumlah penganggur.
v Mereka yang mengecap pendidikan dijadikan sebagai sekrup mesin kolonialisme.
v Pendidikan yang seharusnya menjadi milik publik, tetapi kenyataannya telah berada di bawah kepentingan politik dan bisnis (ekonomi).
v Dunia pendidikan dikendalikan oleh selera penguasa dan pemilik modal demi kepentingan sesaat. Kepentingan sesaat yang mengaburkan visi pendidikan nasional sehingga dalam pelaksanaannya tidak terarah lagi sesuai konstitusi, menyebabkan biaya pendidikan semakin mahal, diskriminasi pendidikan, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan.
v Dengan mengatasnamakan demi kualitas, menjamurlah sekolah-sekolah elite yang memungut biaya yang sangat mahal dari orang tua siswa. RSBI dan SBI yang tertutup bagi siswa miskin.

3 comments:

  1. makasih tulisannya.. silahkan kunjungi juga blog aku. bp-bayupradikto.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. ini sumbernya dari buku kah? bisa di cantumkan judul bukunya? terima kasih

    ReplyDelete
  3. Terimakasih ilmu yang sangat bermanfaat

    ReplyDelete